Oleh: Galuh Metharia (Aktivis Muslimah DIY)
Wacana-edukasi.com, OPINI— Bencana banjir yang terjadi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) bukanlah fenomena baru. Bencana alam ini terus berulang dan belum juga bisa terselesaikan. Menanggapi hal tersebut, peneliti ahli madya dari pusat riset limnologi dan sumber daya air BRIN, Yus Budiono berpendapat ada empat faktor yang menyebabkan banjir di Jabodetabek yakni cuaca ekstrem, penurunan permukaan tanah, kenaikan permukaan air laut, dan perubahan tata guna lahan. Sementara, Luki Subehi selaku kepala pusat riset limnologi dan SDA BRIN menambahkan jika bencana banjir terjadi bukan semata karena curah hujan yang tinggi, melainkan sebab adanya pengelolaan SDA dan perubahan tata kelola lahan di perkotaan (jabar.tribunnews.com, 09/03/2025).
Persoalan banjir memang masih menjadi PR besar bagi Indonesia. Nyaris setiap memasuki musim penghujan, bencana banjir dan tanah longsor terus melanda di beberapa wilayah Indonesia. Tentu saja, perkara ini bukan hanya tugas pemerintah daerah saja, namun juga menjadi tanggung jawab pemerintah pusat. Penyebab umum yang sering disampaikan adalah curah hujan yang tinggi atau fenomena cuaca ekstrem akibat iklim yang tidak bersahabat. Benarkah hanya faktor itu atau adakah peranan manusia yang semakin memperparah kondisi tersebut?
Masifnya Arus Deforestasi dan Alih Fungsi Lahan.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menyatakan bahwa banjir yang terjadi di Jabodetabek pada awal Maret 2025 merupakan bencana ekologis yang disebabkan oleh ketidakadilan dan kegagalan sistem pengelolaan SDA yang berimbas pada hancurnya lingkungan baik pemukiman ataupun ekosistem lainnya. Dalam lima tahun terakhir, WALHI Jabar juga mencatat ada peningkatan tingkat kerusakan lingkungan dari 45% menjadi 65%. Faktor utamanya yakni eksploitasi lingkungan yang tak terkendali. Hutan di kawasan Puncak dan sekitarnya yang harusnya menjadi daerah resapan air berubah menjadi vila, pemukiman, dan destinasi wisata (walhi.or.id, 06/03/2025).
Diakui atau tidak, masifnya arus deforestasi dan alih fungsi lahan menimbulkan bencana dan kesulitan hidup bagi masyarakat. Pembangunan kapitalistik yang jor-joran dengan mengatasnamakan pertumbuhan ekonomi menjadikan rakyat menjadi korban kerusakan lingkungan, sementara para pemilik modal (kapitalis) berpesta cuan. Mirisnya lagi, alih-alih menghentikan deforestasi, pemerintah pusat secara terang-terangan membenarkan dan merestui. Alhasil, eksploitasi sumber daya alam terus saja berjalan tanpa kendali.
Selama paham dan ideologi kapitalisme sekuler masih menancap kuat di negeri ini, mustahil problematik seperti ini bisa diselesaikan hingga akarnya. Sistem kapitalisme hanya bertumpu pada kepentingan para pemilik modal dan pemangku kebijakan saja. Paradigma kepemimpinan sekuler kapitalistik terbukti gagal menciptakan kehidupan yang adil dan harmonis. Asas ideologi kapitalisme adalah pemisahan agama dari kehidupan, sehingga kebijakan yang dihasilkannya pun tak lagi mengenal prinsip halal haram. Prinsip ekonomi kapitalis hanya berfokus pada meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Sehingga, tak sedikit proyek yang mereka sebut pembangunan justru menimbulkan kerusakan dan merugikan masyarakat banyak.
Pandangan Islam
Islam bukan sekadar agama ritual saja, melainkan juga sebuah Mabda’ (ideologi) yang mengatur perkara-perkara dalam hidup manusia. Islam memiliki seperangkat aturan yang khas dan komprehensif. Karenanya, Islam memandang bahwa manusia, alam semesta, dan kehidupan adalah satu kesatuan yang saling terkait dan tidak bisa dipisahkan. Ajaran Islam memerintahkan manusia untuk menjaga dan mengelola alam dengan baik dan benar.
Sebagaimana peringatan Allah SWT. dalam Firman-Nya:
“Dan janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi, setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.” (TQS. Al A’Raaf ayat 56)
Lebih jauh lagi, penerapan sistem Islam tidak dapat terlepas dari tiga pilar penting, yakni ranah individu, masyarakat, dan peran negara. Dalam ranah individu, Islam mengajarkan aturan syariat untuk menjaga, mengelola, dan cara beraktivitas dengan alam atau lingkungan. Begitu pula pada lingkup masyarakat, karena masyarakat dalam Islam dibentuk dari individu-individu yang memiliki satu kesatuan dalam pemikiran, perasaan, dan peraturan. Tentu saja, semua berlandaskan pada akidah Islam yang benar. Sementara pada peranan negara, Islam menetapkan fungsi negara sebagai pengatur, pengurus, dan penjaga. Penguasa dalam Islam (Khalifah) wajib menerapkan aturan Islam secara totalitas dan menyeluruh. Khalifah memiliki kesadaran bahwa ia tidak hanya bertanggung jawab atas rakyatnya, namun juga akan mempertanggungjawabkan kepemimpinannya di hadapan Allah SWT di Yaumil Akhir kelak.
Terkait sumber daya alam termasuk hasil tambang dan hutan, Islam mengategorikannya sebagai harta kepemilikan umum. Artinya haram hukumnya diprivatisasi dan dikuasai oleh individu ataupun swasta. Negara berperan sebagai pengelola dan hasilnya dikembalikan untuk kebermanfaatan seluruh warga negara dalam berbagai fasilitas, seperti jaminan pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Dalam implementasinya, Daulah Islam akan merancang pembangunan dan tata kelola ruang secara rinci dan serius. Bukan hanya memperhatikan penjagaan lingkungan, alam, atau masyarakat sekitar, pembangunan dalam sistem Islam juga memperhatikan aspek keamanan dan pertahanan dari ancaman luar.
Dalam sistem sanksi, Islam memberikan sanksi yang tegas bagi siapa saja yang menimbulkan kemudharatan dan melanggar hak umat termasuk mencemari atau merusak lingkungan. Tentu saja, hal ini akan menekan dan meminimalisasi pelanggaran. Sungguh, penerapan sistem Islam secara kaffah dan dorongan spirit ketakwaan pada tiga pilar penting di atas dapat dipastikan mampu mencegah bencana dan mendatangkan kehidupan yang penuh keberkahan. Sebagaimana telah terbukti pada masa kejayaan sistem Khilafah Islam terdahulu.
Allah SWT berfirman yang artinya:
“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti kami limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (TQS. Al A’Raaf ayat 96).
Views: 2
Comment here