Wacana-edukasi.com, SURAT PEMBACA-– Pemuda adalah harapan bangsa. Mereka adalah aset yang menentukan masa depan negeri. Oleh karena itu, masa muda seharusnya menjadi waktu untuk belajar, bersemangat menuntut ilmu, dan mempersiapkan diri sebagai generasi penerus yang mampu membangun bangsa yang bermartabat.
Namun, realitas di Indonesia saat ini menunjukkan betapa sistem kapitalisme yang mendominasi kehidupan mengerdilkan potensi generasi muda. Dalam sistem ini, pendidikan yang seharusnya menjadi prioritas, justru kerap menjadi ajang eksperimen dan kepentingan politik pihak berkuasa.
Contohnya, setelah diterapkannya Kurikulum Merdeka, kini muncul wacana perubahan menjadi Kurikulum Deep Learning. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menyatakan bahwa pemerintah sedang mengevaluasi kurikulum untuk mengadopsi pendekatan yang lebih mendalam dan partisipatif. Pendekatan seperti Mindful Learning, Meaningful Learning, dan Joyful Learning disebut akan menjadi pilar utama Kurikulum Deep Learning.
Namun, apakah perubahan kurikulum ini benar-benar mampu mencetak generasi unggul? Atau, seperti kebijakan sebelumnya, hanya akan menjadi proyek semu yang tidak menyentuh akar persoalan?
Masalah Fundamental Pendidikan
Indonesia bercita-cita menjadi seperti negara-negara maju dengan pendidikan yang unggul dan pemerintahan yang efektif. Namun, persoalan dasar pendidikan di negeri ini masih jauh dari tuntas. Fasilitas pendidikan yang tidak merata, minimnya akses teknologi di daerah pedesaan, kurangnya ruang kelas, serta kesejahteraan guru yang belum terjamin menjadi penghambat utama.
Bahkan di negara-negara maju, sistem pendidikan yang tampak canggih juga menyimpan persoalan serius. Sebagai contoh:
Di Korea Selatan, angka bunuh diri mencapai 13.000 orang pada 2022. Banyak dari mereka adalah pelajar yang tertekan oleh sistem pendidikan yang sangat kompetitif. Jepang mencatat 521 kasus bunuh diri siswa pada tahun yang sama, angka tertinggi dalam sejarah negara tersebut. Di Tiongkok, persaingan akademik yang ketat menyebabkan tingginya gangguan mental di kalangan generasi muda.
Masalah-masalah ini menunjukkan bahwa sistem sekularisme-kapitalisme, yang memisahkan agama dari kehidupan dan menjadikan materi sebagai tujuan utama, tidak mampu menciptakan generasi yang sejahtera secara mental maupun spiritual.
Dalam sistem ini, kurikulum pendidikan lebih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja, bukan untuk membentuk karakter generasi yang bermartabat. Nilai-nilai agama sering kali diminimalisir atau bahkan dihapus karena dianggap “tidak relevan” dengan kebutuhan zaman.
Islam sebagai Solusi Hakiki
Berbeda dengan kapitalisme, Islam menawarkan sistem pendidikan yang komprehensif dan berbasis akidah. Sistem ini bertujuan membentuk generasi dengan syakhsiyah islamiyah (kepribadian Islam) yang seimbang antara kecerdasan intelektual dan akhlak mulia.
Dalam sistem Islam, pendidikan berbasis akidah Islam. Pendidikan tidak hanya berfokus pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan akhlak dan kepribadian Islam. Generasi yang dihasilkan tidak hanya cerdas, tetapi juga bertanggung jawab secara moral dan spiritual.
Kemudian, akses pendidikan gratis dan merata. Dalam sejarah peradaban Islam, pendidikan diberikan secara gratis oleh negara. Sistem ini memastikan setiap individu mendapatkan akses pendidikan, terlepas dari status sosial atau ekonomi mereka.
Kesejahteraan guru dijamin. Guru sebagai pilar pendidikan diberikan penghormatan dan kesejahteraan yang layak, sehingga mereka dapat fokus pada tugas mendidik tanpa harus memikirkan beban ekonomi.
Selanjutnya, pendidikan Islan menghasilkan generasi peradaban. Dalam sejarahnya, Islam telah melahirkan tokoh-tokoh cemerlang seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, dan Al-Farabi, yang kontribusinya di bidang ilmu pengetahuan diakui hingga saat ini.
Mengembalikan Pendidikan
Dalam sistem khilafah, pendidikan dikelola berdasarkan visi mencetak generasi yang taat kepada Allah SWT, mencintai Rasul-Nya, dan memiliki semangat untuk membangun peradaban yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
Dengan penerapan sistem Islam, generasi muda tidak hanya dibekali dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga dengan akhlak mulia yang menjadi pondasi utama dalam membangun masyarakat yang beradab.
Solusi hakiki bagi permasalahan pendidikan bukanlah terus-menerus mengganti kurikulum dalam kerangka kapitalisme. Solusi itu hanya dapat terwujud dengan menerapkan Islam secara menyeluruh dalam kehidupan, termasuk dalam sistem pendidikan.
Ummu Nazriel
Views: 18
Comment here