Opini

Kisruh SNBP 2025: System Error atau Human Error?

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Eka

Wacana-edukasi.com, OPINI– Baru-baru ini ramai pemberitaan mengenai ratusan siswa yang terancam gagal Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). SNBP merupakan salah satu jalur penerimaan mahasiswa baru di Perguruan Tinggi Negeri berdasarkan prestasi yang diselenggarakan oleh Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB).

Kisruh SNBP terjadi pada banyak sekolah di Indonesia, di antaranya: SMA 1 Bukateja, SMAN 4 Karawang, MAN 1 Lamongan, SMKN 2 Solo, SMKN 2 Surakarta, SMAN 7 Cirebon, SMKN 1 Kota Jambi, SMAN 1 Mempawah, dan bahkan terjadi juga di salah satu sekolah di Kabupaten Bandung yaitu SMAN 1 Cileunyi.

Kekisruhan berawal dari kasus di SMKN 1 Kota Jambi dimana operator sekolah diminta untuk menginput satu siswa (yang kabarnya merupakan titipan) ke dalam daftar siswa eligible (memenuhi syarat). Namun setelah proses input ulang dilakukan, malah membuat data nilai ratusan siswa lain hilang dan juga kehilangan kesempatan mengikuti SNBP (ig: @inari.indonesia).

Berita ini mengkhawatirkan para wali murid di SMAN 1 Cileunyi dan melakukan konfirmasi ke sekolah mengenai status input data di Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS). Kepala Tata Usaha SMAN 1 Cileunyi, Daman Darmawan, mengakui adanya kesalahan teknis.  Daman mengungkapkan bahwa portal PDSS terkunci saat pemrosesan data terakhir (beritanusa.pikiran-rakyat.com).

Mirisnya Sistem Pendidikan

Kisruh SNBP ini bukanlah masalah regional, tetapi sudah menjadi masalah nasional karena terjadi di banyak sekolah di Indonesia. Lalu bagaimana langkah pemerintah  dalam menyelesaikan masalah ini? Apakah berarti sistem yang dibuat memang belum layak digunakan, atau justru Sumber Daya Manusia  (SDM) yang ada belum mumpuni untuk mengoperasikan sistem ?

Kondisi kisruh SNBP ini menjadi contoh potret buram sistem pendidikan di Indonesia. Kelalaian operator sekolah dijadikan alasan kambing hitam di beberapa kasus. Ini membuktikan rendahnya kualitas SDM di dunia pendidikan kita saat ini. Padahal masa input data ke PDSS bukanlah waktu yang singkat, namun bukti di lapangan menunjukkan adanya petugas yang lalai dengan tugasnya bahkan hingga tenggat waktu yang ditentukan dan portal PDSS sudah ditutup.

Selain itu, juga ada operator yang terpaksa mengikuti keinginan atasan untuk memasukkan satu siswa ‘titipan’ yang justru malah mengorbankan data ratusan siswa lain yang sudah masuk malah terhapus.

Kasus yang terjadi di SMAN 1 Cileunyi misalnya, pihak sekolah berusaha mengatasinya dengan mendatangi pemerintah terkait. Awalnya dengan mendatangi kementerian untuk memohon pembukaan kembali portal PDSS. Namun karena tak kunjung dilakukan, perwakilan SMAN 1 Cileunyi kemudian mendatangi Komisi X DPR-RI.

Permasalahan viral ini tentu juga menarik atensi pihak-pihak terkait. Wakil Ketua DPR, Cucun Ahmad Syamsurijal, mengungkapkan bahwa hal ini murni kelalaian petugas. Menurutnya, SNBP ini harus dievaluasi kembali. Setali tiga uang, menurut Ketua Komisi X DPR, Maria Yohana Esti Wijayanti bahwa persoalan ini bukanlah kesalahan pemerintah pusat, melainkan keteledoran operator yang bertugas di sekolah (tempo.co, 7/2/ 2025).

Meskipun pada akhirnya Panitia SNPMB membuka kembali SNBP, namun tetap memperhatikan faktor akuntabilitas, keberadilan, integritas, serta menghargai sekolah yang telah tertib dan disiplin dalam pengisian PDSS (ig: @lambe_turah 7/2/2025).

Keberadaan sistem SNBP ini hendaknya dikaji ulang, karena tetap harus memperhatikan kesiapan pihak sekolah yang akan menggunakan sistem ini. Teknologi tidak bisa dipaksakan jika SDM yang ada belum mampu menjadi user (pengguna) yang skill (keahlian) dan knowledge (pengetahuan) bisa mengimbangi teknologi tersebut.

Sistem Islam

Karakter sistem pendidikan Islam akan memperhatikan dan menyelaraskan kemajuan teknologi bersamaan dengan peningkatan kualitas SDM.  Secara fisik tidak hanya terlihat dari infrastruktur satuan pendidikan yang indah dan megah, tapi juga melengkapi sarana dan prasarana dengan teknologi terkini yang memenuhi prasyarat keamanan, kenyamanan, dan kesehatan bagi proses belajar-mengajar.

Pendidikan Islam tidak hanya fokus pada pencetakan generasi khoiru ummah (ummat terbaik) pada anak didik, namun sebelumnya sudah menyiapkan tenaga pendidik yang profesional dan berdedikasi. Sistem Islam akan mampu membangun tenaga pendidik  dan petugas penunjangnya yang berkepribadian Islami dengan cara menjalankan perangkat pembinaan, pengaturan, dan pengawasan di seluruh aspek pendidikan.

Totalitas pemerintahan Islam dalam bidang pendidikan jelas tidak main-main, karena berhubungan dengan kualitas generasi. Bahkan sejarah kekhalifahan menunjukkan betapa Islam mampu berkembang pesat dengan lahirnya para cendekiawan Muslim. Contohnya di masa Osman Gazi, peletak dasar kesultanan yang kemudian menjadi Kekhalifahan Utsmani, yang membuktikan jika Pendidikan dan pembinaan generasi digarap sungguh-sungguh akan mampu membawa pada perubahan yang besar, yang semula hanya sekedar sebuah kabilah akhirnya bisa menjadi khilafah (Al-wa’ie edisi Januari 2025).

Dalam sistem Islam dimana negara tegak berlandaskan akidah Islam, penerapan Syariah dilakukan secara menyeluruh. Hal ini berdampak pada penjagaan seluruh rakyat di beragam lapisan, termasuk generasi mudanya. [WE/IK].

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 15

Comment here